Beijing (WARTASULAWESI) – China mengeluarkan kecaman keras terhadap tindakan Amerika Serikat yang melakukan serangan militer serta penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada awal Januari 2026. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, pada Senin, 5 Januari 2026, menegaskan kekecewaan dan keprihatinan mendalam Beijing terhadap langkah kontroversial AS tersebut.
Latihan Militer AS yang Berujung Penangkapan Maduro
Amerika Serikat diketahui telah melancarkan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang selama ini menjadi tokoh sentral dengan kebijakan anti-Amerika serta dukungan kuat terhadap negara-negara sekutu China. Menurut China, langkah ini tidak hanya bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional mengenai kedaulatan negara, tetapi juga memicu ketegangan yang dapat memperburuk situasi keamanan di kawasan Amerika Latin dan Karibia.
Pelanggaran Hukum Internasional dan Reaksi Dunia
Dalam pernyataannya, Lin Jian mengingatkan bahwa serangan semacam ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan kedaulatan Venezuela. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip yang diatur oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) guna menjaga perdamaian dan keamanan global.
Reaksi global beragam, dan kecaman dari China ini menjadi sorotan masyarakat internasional. Isu tentang intervensi negara lain ke dalam urusan internal sebuah negara berdaulat menjadi pusat perdebatan hangat, terutama mengingat sejarah panjang ketegangan antara AS dan negara Venezuela.
Implikasi Keamanan Regional Amerika Latin dan Karibia
China menegaskan bahwa aksi militer ini berpotensi menjadi ancaman serius terhadap stabilitas keamanan di wilayah Amerika Latin dan Karibia. Langkah yang diambil AS dapat mengakibatkan ketidakpastian politik dan kekerasan yang meluas di kawasan, sehingga menghambat proses diplomasi dan perdamaian yang telah berjalan lama.
Dalam konteks ini, penting untuk melihat dinamika hubungan pan-Amerika yang melibatkan beragam aktor regional dan global, yang saling mempengaruhi kebijakan luar negeri dan keamanan di benua Amerika.
Konteks Sejarah dan Hubungan AS-Venezuela-China
Hubungan AS dengan Venezuela dalam beberapa dekade terakhir selalu diwarnai ketegangan, terutama seiring kepemimpinan Nicolas Maduro yang dianggap AS sebagai penghalang kepentingan strategis mereka. Sementara itu, China telah menjadi salah satu pendukung utama Venezuela dengan bantuan ekonomi dan politik, sebagaimana tercermin dalam pernyataan keras Beijing ini.
Hubungan erat ini menjadi salah satu faktor utama penguatan posisi Venezuela di mata global yang kerap berseberangan dengan kebijakan AS, sehingga menambah kompleksitas dalam diplomasi dan geopolitik internasional.
Sebagai referensi, pembaca dapat melihat artikel terkait sebelumnya tentang ketegangan geopolitik antara AS dan sekutu Rusia yang memberikan sudut pandang tambahan mengenai dinamika kekuatan global saat ini.
Diplomasi dan Harapan Penyelesaian Damai
Banyak pihak berharap agar insiden ini dapat diselesaikan melalui jalur diplomatik untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang berpotensi menggoyahkan tatanan keamanan internasional. Dialog antarnegara dan penghormatan terhadap hukum internasional menjadi kunci untuk meredakan ketegangan dan mencari solusi damai.
Kerjasama dalam forum multilateral seperti PBB perlu diperkuat agar kasus seperti ini tidak menjadi preseden buruk yang mengancam stabilitas global.
*Sumber: WARTASULAWESI, YouTube Channel resmi Kompascom Reporter on Location*