Siau Timur (WARTASULAWESI) – Malam itu, tepat pukul 02.00 Wita ketika sebagian besar warga masih terlelap dalam tidur, Desa Bahu Sondang, Kecamatan Siau Timur, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, diguncang oleh suara arus air deras yang membangunkan penduduk secara mendadak. Banjir besar yang kemudian menerjang wilayah tersebut membawa duka mendalam: delapan orang meninggal dunia dan tiga lainnya hilang sampai kini.
Cerita Rafles Tatoya: Terbangun Mendengar Suara Batu
Rafles Tatoya, warga berumur 55 tahun yang tinggal di Desa Bahu, menceritakan pengalaman menegangkan saat banjir itu terjadi. Dalam wawancara eksklusif yang dilakukan di lokasi pengungsian Museum Ulu Siau, ia mengungkapkan bagaimana tiba-tiba terbangun karena bunyi suara batu yang bergesekan dan gemuruh deras air memenuhi malam yang seharusnya tenang.
“Saya sempat kaget dan langsung bangun karena suara itu sangat keras dan menggelegar,” ujarnya. Ia mengamati arus air yang cepat memasuki pemukiman warga sehingga memaksa dirinya dan keluarganya segera menyelamatkan diri.
Banjir Bandang dan Dampaknya
Banjir yang menyerang Desa Bahu merupakan peristiwa langka dengan dampak cukup parah. Selain menyebabkan 8 korban meninggal dan 3 hilang, banyak rumah dan harta benda rusak berat. Banjir bandang jenis ini biasanya terjadi akibat curah hujan yang sangat tinggi dan topografi wilayah yang curam seperti yang dimiliki daerah ini (Banjir bandang – Wikipedia).
Wojaya air yang deras membawa batu dan material berat lain yang meluncur menimbulkan kerusakan struktural tidak hanya pada bangunan rumah tetapi juga infrastruktur desa. Kondisi ini tentu memerlukan perhatian dan langkah mitigasi bencana lebih intensif dari pemerintah daerah dan pusat.
Respon dan Bantuan
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro dan instansi terkait segera melakukan evakuasi dan menyiapkan pos pengungsian seperti yang dilakukan di Museum Ulu Siau. Upaya penanganan pasca-banjir ini menjadi fokus utama untuk memastikan korban mendapatkan bantuan medis, makanan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Bencana yang dialami warga Desa Bahu ini mengingatkan kita akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, terlebih untuk daerah rawan bencana seperti Sulawesi Utara. Artikel terkait mengenai penanganan bencana dapat ditemukan di laman kami tentang peringatan dini cuaca ekstrem.
Pentingnya Edukasi dan Mitigasi Bencana
Sulit untuk memprediksi secara tepat kapan bencana seperti banjir bandang terjadi, namun meningkatkan pemahaman masyarakat tentang tanda-tanda alam dan tindakan tanggap bencana bisa menyelamatkan nyawa. Ini termasuk membangun sistem peringatan dini dan memastikan infrastruktur tanggap bencana yang kuat.
Berbagai program pemerintah dan keterlibatan masyarakat luas perlu terus diintensifkan agar tragedi bisa diminimalisasi. Mengenai kesiapsiagaan bencana, masyarakat dapat belajar lebih lanjut di halaman peringatan dini cuaca ekstrem dan mitigasi yang kami sajikan.
Banjir yang menimpa Desa Bahu menjadi peringatan keras akan kekuatan alam dan pentingnya sistem mitigasi bencana yang memadai. Rafles Tatoya dan warga lainnya kini masih dalam proses pemulihan dan berharap bantuan bisa terus mengalir untuk membangun kembali kehidupan mereka.
Untuk informasi lebih lanjut, ikuti berita seputar bencana dan upaya mitigasi di daerah Sulawesi Utara melalui Berita Terkini kami.
Sumber: WARTASULAWESI, YouTube Channel resmi Tribunnews Manado