Suhu di Surabaya 36 Derajat Terasa Menyengat Seperti 41 Derajat, Apa Penyebabnya?

Surabaya (WARTASULAWESI) – Suhu udara di Surabaya mencapai 36 derajat Celsius namun terasa seperti 41 derajat. Fenomena ini terjadi akibat kelembapan udara yang tinggi dan posisi matahari yang berada di garis ekuator, disertai minimnya awan yang menyelimuti langit. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi ini membuat panas terasa menyengat di wilayah tersebut.

Penyebab Kenaikan Suhu yang Terasa Lebih Tinggi

Fenomena suhu yang terasa lebih panas dari suhu sebenarnya ini dikenal sebagai indeks panas. Indeks panas merupakan indikator yang menggabungkan suhu udara dan kelembapan relatif, yang menyebabkan tingkat kenyamanan termal menjadi berkurang. Saat kelembapan tinggi, tubuh manusia sulit mengeluarkan keringat secara efektif, sehingga panas terasa lebih ekstrem.

BMKG menjelaskan, posisi matahari yang sedang berada tepat di garis ekuator menyebabkan intensitas sinar matahari mencapai puncaknya. Bersamaan dengan minimnya awan yang biasanya menghalangi sinar matahari, efek pemanasan menjadi lebih besar dan membuat suhu udara terasa lebih tinggi.

Faktor Iklim Musim Kemarau di Jawa Timur

Fenomena ini bersamaan dengan musim kemarau yang saat ini sedang melanda wilayah Jawa Timur, termasuk Surabaya. Musim kemarau adalah periode panjang di mana curah hujan sangat rendah, dan langit cenderung cerah, sehingga suhu dapat meningkat secara signifikan.

Menurut BMKG, kondisi seperti ini diperkirakan akan bertahan hingga awal Oktober sebelum beralih ke musim hujan. Warga diimbau untuk tetap melindungi diri dari paparan sinar matahari langsung, terutama di siang hari ketika suhu mencapai puncaknya.

Dampak dan Antisipasi terhadap Cuaca Ekstrem

Suhu yang tinggi dan kelembapan yang tinggi memberikan dampak pada kesehatan masyarakat, terutama bagi mereka yang rentan seperti anak-anak, lanjut usia, dan penderita penyakit tertentu. Risiko yang muncul termasuk dehidrasi, kelelahan panas, dan penyakit kulit akibat paparan sinar ultraviolet berlebih.

Langkah antisipasi yang dianjurkan antara lain memperbanyak konsumsi air putih, mengenakan pakaian yang ringan dan berwarna terang, serta menghindari aktivitas di luar ruangan pada siang hari. Penggunaan tabir surya juga direkomendasikan sebagai perlindungan tambahan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai prediksi cuaca, pembaca dapat merujuk ke artikel terkait yang menjelaskan fenomena serupa di wilayah Surabaya.

Cuaca ekstrem selama musim kemarau ini juga menjadi perhatian global, terkait dengan perubahan iklim yang tengah berlangsung. Fenomena tersebut menuntut peranan serta kesadaran masyarakat dalam beradaptasi dan melakukan mitigasi.

Kesimpulan

Fenomena suhu udara di Surabaya yang mencapai 36 derajat Celcius dan terasa seperti 41 derajat merupakan hasil kombinasi dari posisi matahari yang berada di garis ekuator, minimnya awan, serta kelembapan tinggi pada musim kemarau ini. Diperlukan kewaspadaan warga untuk melindungi diri dan menjaga kesehatan selama periode ini hingga musim hujan tiba.

Hal ini bukan hanya menjadi perhatian lokal, namun juga bagian dari isu iklim yang lebih luas. Untuk memahami perubahan suhu dan cuaca secara global, dapat mengunjungi halaman Wikipedia tentang perubahan iklim.

*Sumber: WARTASULAWESI, YouTube Channel resmi Kompascom Reporter on Location*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *