Beijing (WARTASULAWESI) – Pemerintah China secara tegas mengecam sikap Taiwan yang dinilai semakin condong mendukung Jepang. Penilaian ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, pada Jumat, 28 November 2025, dalam pernyataan resmi yang menarik perhatian internasional.
China Kecam Taiwan karena Sikap Pro-Jepang
Sikap Taiwan yang dianggap pro-Jepang oleh China memicu reaksi keras. Mao Ning menegaskan bahwa tindakan Taiwan tersebut tidak hanya dipandang sebagai dukungan politik, tetapi juga melibatkan masalah sejarah yang sensitif, yakni terkait periode ketika Jepang menjajah Taiwan selama lebih dari lima puluh tahun.
Latar Belakang Sejarah Penjajahan Jepang di Taiwan
Sejarah mencatat bahwa Taiwan pernah menjadi koloni Jepang selama hampir 50 tahun, tepatnya dari 1895 hingga 1945. Masa penjajahan ini tercatat memiliki banyak dampak negatif dan luka sejarah bagi rakyat Taiwan. Jepang dituduh melakukan berbagai kejahatan dan eksploitasi yang meninggalkan kesan mendalam dalam hubungan antar kedua negara.
Informasi lengkap tentang periode kolonial Jepang di Taiwan dapat ditemukan pada halaman resmi Wikipedia: Japanese rule in Taiwan.
Desakan China kepada Jepang
Dalam kesempatan tersebut, Mao Ning juga meminta Jepang untuk menarik pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi terkait Taiwan. China menuntut agar Jepang mematuhi prinsip Satu China dan menghormati kedaulatan China atas Taiwan.
Prinsip Satu China adalah konsep politik yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah China, yang menjadi dasar diplomasi dan kebijakan luar negeri China. Informasi mengenai prinsip ini bisa disimak lebih lanjut di Wikipedia: One-China policy.
Implikasi Politik dan Hubungan Taiwan-Jepang-China
Pernyataan keras dari China ini mencerminkan ketegangan yang meningkat di kawasan Asia Timur, khususnya dalam dinamika hubungan Taiwan, Jepang, dan China. Ketiganya memiliki sejarah panjang serta kepentingan strategis yang saling bertabrakan.
Isu ini juga berkaitan dengan posisi strategis Taiwan di kawasan Pasifik dan hubungannya dengan kekuatan besar di dunia. Sebelumnya, Warta Sulawesi pernah mengulas dinamika politik dan keamanan di Asia Timur yang bisa menjadi konteks tambahan untuk memahami situasi ini pada artikel Pemerintahan Bone Ricuh Demo Tolak Kenaikan PBB.
Ketegangan antara China dan Taiwan termasuk aspek penting dalam politik internasional, sejalan dengan dinamika geopolitik global yang juga melibatkan negara-negara seperti Amerika Serikat dan Jepang.
Untuk berita lain terkait politik internasional dan konflik, Anda dapat membaca juga pada kategori Pemerintahan & Politik di Warta Sulawesi.
Tantangan Diplomasi dan Perdamaian
Situasi ini menjadi ujian berat diplomasi di kawasan Asia, di mana klaim sejarah dan politik antar negara sering menjadi sumber gesekan. Membuka dialog konstruktif dan menyelesaikan perbedaan dengan cara damai menjadi keharusan agar ketegangan tidak berujung pada konflik yang lebih besar.
Kemampuan untuk memahami sejarah, menghormati kedaulatan, dan mencari titik temu politik menjadi kunci menjaga stabilitas regional. Tindakan saling menghormati antar negara dapat menghindarkan potensi konflik yang akan berdampak luas.
Simak pula perkembangan terbaru mengenai hubungan internasional dan politik Asia di Berita Terkini Warta Sulawesi untuk mendapatkan update informasi terkini.
Ketegangan yang terjadi antara China, Taiwan, dan Jepang menunjukkan kompleksitas sejarah dan politik yang masih berpengaruh hingga hari ini, menuntut semua pihak bijak dalam mengambil langkah ke depan.
Sumber: WARTASULAWESI, YouTube Channel resmi Kompascom Reporter on Location